PINA Dorong Pengembangan Green Bond di Indonesia

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) melalui Unit Tim Fasilitasi Pembiayaaan Investasi Non Anggaran Pemerintah (PINA Center) berkomitmen untuk terus menjadi bagian dari upaya dan solusi bagi pemerintah dalam mengakselerasi pembangunan infrastruktur di Indonesia.

PINA Center juga mendorong pembiayaan infrastruktur yang bebasis dan berwawasan lingkungan pembangunan berkelanjutan dalam rangka mendukung pembangunan infrastruktur dan mewujudkan program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG’s) dalam menyediakan sarana dan prasarana untuk meningkatan kesejahteraan rakyat.

Ini diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerjasama green bonds antara perusahaan advisory di green bonds dan sekuritisasi aset, PT Efek Beragun Aset (EBA) Indonesia dengan organisasi nirlaba internasional yang berfokus pada instrumen keuangan dan investasi yang berwawasan lingkungan, The Climate Bonds Initiative.

CEO PINA Center Ekoputro Adijayanto menyambut baik terlaksananya Nota Kesepahaman antara PT EBA Indonesia dan The Climate Bonds Initiative sebagai momentum menjadikan istrumen keuangan berwawasan lingkungan (green bonds) sebagai bagian dari upaya mendukung pertumbuhan investasi dan pembangunan infrastruktur yang mengedepakan aspek keberlanjutan lingkungan di Indonesia.

“Kami sangat mengapresiasi inisiasi di awal ini sebagai upaya promosi dan edukasi kepada masyarakat tentang green bond di Indonesia, tentu hal ini merupakan sebuah terobosan yang baik dan penting sebagal komitmen dari pemerintah menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan,” kata dia di Kantor Bappenas, Jalan Taman Suropati, Jakarta Pusat, Senin, 5 Februari 2018.

Dirinya menambahkan, green bond dan efek beragun aset menjadi kontekstual karena merupakan salah satu dari beberapa alternatif pembiayaan perusahaan. Ekoputro mengatakan ke depan akan mendukung lembaga infrastruktur dan lembaga keuangan di Indonesia memperoleh pembiayaan investasi melalui surat utang berwawasan lingkungan.

“Perusahaan harus tahu semua alternatif yang ada dari pembiayaan jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang. Apabila pembiayaan diarahkan untuk proyek infrastruktur, maka yang diperlukan adalah pembiayaan jangka panjang. Green bond atau efek beragun aset dapat menjadi ahematif pembiayaan,” jelas dia.

Hal ini, lanjut dia, tidak terlepas dari komitmen PINA Center untuk menjadikan PINA sebagai skema fasilitasi untuk mengakselerasi pembiayaan investasi proyek-proyek strategis nasional yang sumber pembiayaannya berasal dari non APBN/APBD dan sepenuhnya didukung kebijakan pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: